Cakar Ayam

Uraian:
Termasuk divisi Pteridophyta, tumbuhan paku-pakuan ini tumbuh pada terbing, jurang, dan tempat-tempat teduh yang berhawa dingin. Batang tegak, tinggi 15 – 35 cm, keluar akar pada percabang. Daunnya kecil-kecil, panjang 4 – 5 mm, lebar 2 mm, bentuk jorong, ujung meruncing, pangkal rata, warna daun bagian atas hijau tua, bagian bawah hijau muda. Daun tersusun di kiri kanan batang induk sampai ke percabangan, menyerupai cakar ayam dengan sisik-sisiknya.

Nama Lokal:
Rumput solo, cemara kipas gunung; Shi shang be (China).

Penyakit Yang Dapat Diobati:
Kanker paru, bronchitis, radang paru, tonsilis, batuk, koreng, hepatitis, perut busung, infeksi saluran kencing, tulang patah, reumatik.
Pemanfaatan:
Bagian Yang Dipakai: Seluruh tanaman, pemakaian kering.
Kegunaan:
1.       Chorioepithelioma, choriocarcinoma, kanker nasopharynx kanker paru.
2.       Infeksi saluran nafas, bronchitis, radang paru (pneumonia), tonsillitis.
3.       Batuk, serak, koreng.
4.       Tulang patah (fraktur), rheumatic.
5.       Hepatitis, cholecystitis, cirrhosis (pengecilan hati), perut busung (ascites), infeksi akut saluran kencing.
Pemakaian Luar:
Tanaman segar dilumatkan. Tempelkan ditempat yang sakit.
Cara Pemakaian:
1.       Kanker
60 gram cakar ayam keras direbus selama 3 – 4 jam dengan api kecil. Minum setelah dingin.
2.       Batuk, Radang Paru, Radang Amandel (Tonsilitis)
30 gr cakar ayam direbus. Kemudian diminum.
3.       Jari Tangan Bengkak
Dilumatkan. Tempelkan di tempat yang sakit.
4.       Tulang Patah
15 – 30 gram cakar ayam segar direbus lalu diminum.
Pemakaian Luar: Dilumatkan kemudian ditempelkan pada bagian yang patah (bila patahnya tertutup dan posisi tulangnya baik).
5.       Sudah Dibuat Infus, Tablet, Dan Obat Suntik
Untuk kanker: 18 tablet, 60 gram herba segar. Diminum sehari 3 x sehari 6 – 8 tablet.
Obat Paten: Decancerlin.
Komposisi:
Sifat Kimiawi Dan Efek Farmakologis:
Manis, hangat. Penurun panas, antitoxic, anti kanker (antineoplastic), menghentikan pendarahan (hemostatik), anti bengkak (antioedem).

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Sangketan

Uraian:
Terna setahun, tumbuh tegak, tinggi dapat mencapai100 cm, berambut, tumbuh di sisi jalan, tanah kosong yang tidak terawat, di tempat yang panas. Batang berambut kasar, daun tunggal berseling, bentuk bundar telur tepi bergerigi atau beringgit, permukaan daun bagian atas dan bawah berambut halus bunga kecil bergelombang di ujung batang, warna lembayung. Batang bunga panjang ± 10 cm, keluar dari ketiak daun atau ujung – ujung tangkai. Tumbuh di daerah beriklim kering dari dataran rendah sampai 800 m di atas permukaan laut.

Nama Lokal:
Gajahan, langun, uler – uleran, sangketan, cocok bero, tlale gajah, tulale gajah (Jawa); Bandotan lombok, buntut tikus, ekor anjing, tusuk konde (Sumatera); Da wei yao (China).

Penyakit Yang Dapat Diobati:
Infeksi ndan abses paru, radang tenggorokan, sariawan, diare, disentri. Radang buah zakar, bisul, radang kulit bernanah, alegri/biduren, sariawan, luka baru, luka borok, eksim, bisul.

Pemanfaatan:
Seluruh tanaman (herba) atau akar, segar atau dikeringkan.

Kegunaan:
– Infeksi paru (pneumonitis), abses paru, pulmonary empyema.
– Radang tenggorok, sariawan.
– Diare, disentri, peluruh haid.
– Peradangan buah zakar, bisul, radang kulit bernanah.

Pemakaian:
Rebus 30 – 60 gr herba segar atau ambil air perasan herba segar, dicampur madu, kemudian diminum.

Pemakaian Luar:
Air rebusan herba segar untuk mencuci kelainan kulit, gatal-gatal, atau herba segar dilumatkan sampai menjadi bubur, tempelkan pada bisul, kelainan kulit, atau untuk kumur-kumur air perasan herba segar.

Cara Pemakaian:
1. Infeksi Paru, Abses Paru, Empyema
60 Gr herba segar direbus, airnya campur madu, minum.
2. Sariawan
Daun segar dilumatkan, kemudian diperas. Airnya untuk berkumur-kumur. Lakukan 4 – 6 kali sehari.
3. Disentri
30 – 60 Gr herba segar direbus, minum.
4. Peradangan Buah Zakar (Orchitis)
60 Gr akar segar direbus, minum.
5. Bisul
a). 60 Gr akar segar ditambah sedikit garam, rebus, lalu diminum.
b). Lumatkan campuran daun segar + nasi dingin, tempelkan.

Catatan:
Wanita hamil jangan menggunakan biji dan bunganya. (Bisa menyebabkan keguguran).

Komposisi:
Sifat Kimiawi Dan Efek Farmakologis:
Rasa pahit, netral, toxic. Anti radang, mematikan parasit (parasiticide), menghilangkan gatal (anti pruritic).

Kandungan Kimia:
Indicine, acetyl indicine, indicinine.
Sangketan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Salvia

Uaraian:
Tanaman hias berbunga indah ini asalnya dari Meksiko, ditanam di taman – taman atau dipekarangan dan dapat ditemukan terutama pada daerah berhawa sejuk sampai setinggi 1.400 m dpl. Salvia menyukai tempat – tempat yang menerima sinar matahari penuh atau agak terlindung dengan cahaya cukup. Perdu, tumbuh tegak, tinggi 20 – 90 cm, batang, bersegi empat, bercabang. Daun tunggal, panjang tangkai daun 1 – 6 cm, helaian daun bentuknya bulat telur sampai memanjang, ujung runcing, pangkal tumpul, tap bergerigi, tulang daun menyirip, panjang 3 – 10 cm, bear 2 – 6,5 cm, warnanya hijau tua. Bunga berwarna merah 2 – 16 kuntum tumbuh melingkar menjadi karangan bunga berbentuk tandan yang panjang 10 – 30 cm. Buahnya lonjong, kecil. Perbanyakan
dengan biji atau stek tunas.

Penyakit Yang Dapat Diobati:
Demam, bisul, luka terpukul, terkilir, dan bengkak.

Pemanfaatan:
Bagian Yang Dipakai: Seluruh tanaman.
Kegunaan:
– Demam, bisul, luka terpukul.
– Terkilir dan bengkak.

Pemakaian Luar:
Secukupnya tanaman segar setelah dicuci bersih ditumbuk sampai bubuk. Dipakai untuk menurap bagian tubuh yang sakit.

Komposisi:
Sifat Kimiawi Dan Efek Farmakologis:
Manis, netral, membersihkan panas.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Salam

Uraian:
Salam tumbuh liar di hutan dan pegunungan, atau ditanam di pekarangan dan sekitar rumah. Tanaman ini dapat ditemukan dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1.800 m dpl. Pohon bertajuk rimbun, tinggi mencapai 25 m, berakar tunggang, batang bulat, permukaan licin. Daun tunggal, letak berhadapan, bertangkai yang panjangnya 0,5 – 1 cm. Helalaian daun bentuknya lonjong sampai elips atau bundar telur sungsang, ujung meruncing, panjang runcing, tepi rata, panjang 5 – 15 cm, lebar 3 – 8 cm, pertulangan menyirip, permukaan atas licin berwarna hijau tua, permukaan bawaan warnanya bawah warnanya hijau muda. Daun bila diremas berbau harum. Bunganya bunga majemuk tersusun dalam malai yang keluar dari ujung ranting, warnanya putih, baunya harum. Buahnya buah buni, bulat, diameter 8 – 9 mm, warnanya bila hijau muda, setelah masak menjadi merah gelap, rasanya agak sepat. Biji bulat, penampang sekitar 1 cm, warnanya coklat. Salam ditanam untuk diambil daunnya sebagai pelengkap bumbu dapur, kulit pohonnya dipakai sebagai bahan pewarna jala atau anyaman bambu. Perbanyak dengan biji, cangkok atau stek.

Nama Lokal:
Gowok (Sunda); Manting (Jawa); Kastolam (Kangean); Meselangan, ubar serai (Melayu); Salam (lndonesia, Sunda, Jawa, Madura).

Penyakit Yang Dapat Diobati:
Diare, maag, kencing manis, mabuk akibat alkohol.
Bagian Yang Dipakai: Daun, kulit batang, akar dan buah.

Kegunaan:
– Diare, sakit maag (gastritis)
– Kencing manis, mabuk akibat alkohol

Pemakaian:
Untuk Minum: 7 – 20 Lembar daun, direbus.
Pemakaian Luar: Kulit batang, daun atau akar setelah dicuci bersih digiling halus sampai seperti bubur. Digunakan untuk pemakaian setempat pada infeksi kulit seperti kudis dan gatal – gatal.

Cara Pemakaian:
1. Diare
15 gr daun dicuci bersih lalu direbus dengan 1 gelas air bersih (±15 menit). Tambahkan sedikit garam. Setelah dingin disaring lalu minum.
2. Kencing Manis
7 Lembar daun salam dicuci bersih. Rebus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring. Bagi untuk 2 kali minum.
3. Sakit Maag
15 – 20 Lembar daun dicuci bersih. Rebus dengan ½ liter air sampai mendidih. Tambahkan gula merah secukupnya. Minum sebagai teh setiap hari, sampai rasa perih di lambung hilang.
4. Mabuk Akibat Alkohol
1 genggam buah daun salam yang sudah masak dicuci bersih. Tumbuk sampai halus. Peras dan saring, lalu diminum.
5. Kudia, Gatal
Daun atau kulit batang atau akar, dicuci bersih lalu digiling halus sampai menjadi adonan seperti bubur. Balurkan dibagian tempat yang sakit.

Komposisi:
Sifat Kimiawi Dan Efek Farmakologis: Daun: Rasa kelat, wangi. Astrigent. Kandungan Kimiawi: Minyak atsiri (0,05%) mengandung sitral dan eugenol, tanin dan flavonoida.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

SAGA

Uraian:
Saga (Abrus Precatoris) termasuk jenis tumbuhan perdu dengan pokok batang berukuran kecil dan merambat pada inang membelit-belit kearah kiri. Daunnya majemuk, berbentuk bulat telur serta berukuran kecil-kecil. Daun saga menyerupai daun tamarindus indica dengan bersirip ganjil dan memiliki rasa agak manis (biasa disebut saga manis). Saga mempunyai buah polong berisi biji-biji yang berwarna merah dengan titik hitam mengkilat dan licin. Biji saga mengandung zat racun yang disebut abrin, sehingga tidak dapat dimanfaatkan untuk pembibitan. Sedang bunganya berwarna ungu muda dengan bentuk menyerupai kupu-kupu, dalam dukungan tandan bunga. Tumbuhan ini banyak tumbuh secara liar di hutan-hutan, ladang-ladang atau sengaja dipelihara di pekarangan. Saga dapat tumbuh dengan baik di daerah dataran rendah, sampai ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut.

Nama Lokal:
Saga (lndonesia); Saga telik/manis (Jawa); Thaga (Aceh); Saga areuy, saga leutik (Sunda); Walipopo (Gorontalo); Piling-piling (Bali); Seugeu (Gayo); Ailalu pacar (Ambon); Saga buncik, saga ketek (Minangkabau); kaca (Bugis).

Penyakit Yang Dapat Diobati:
Amandel, radang mata, sariawan.

Pemanfaatan:
1. Amandel
Bahan: Akar saga secukupnya, 1 potong kayu manis, gula batu secukupnya.
Cara Membuat: Semua bahan direbus dengan 5 gelas air sampai mendidih hingga tinggal separuh. Saring, minum 2 kali sehari 1 gelas, pagi dan sore.

2. Radang Mata
Bahan: 1 Genggam daun saga.
Cara Membuat: Daun saga digiling halus. Rebus dengan 2 gelas air. Ambil uapnya.
Cara Menggunakan: Gunakan uap air daun saga untuk obat tetes mata.

3. Sariawan
Bahan: Daun saga secukupnya.
Cara Membuat: Daun saga baru dipetik dijemur sebentar agar agak layu.
Cara Menggunakan: Kunyah-kunyah sampai halus sambil untuk berkumur.

Komposisi:
Daun maupun akar tumbuhan abrus pracatorius antara lain mengandung protein, vitamin A, B1, B6, C, kalsium oksalat, glisirizin, flisirizinat, polygalacturomic acid dan pentosan.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Pisang

Uraian:
Tumbuhan ini berasal dari Asia dan tersebar di Spanyol, Italia, Amerika dan bagian dunia yang lain. Tumbuhan pisang menyukai daerah alam terbuka yang cukup sinar matahari, cocok tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 1.000 meter lebih di atas permukaan laut. Pada dasarnya tumbuhan pisang merupakan tumbuhan yang tidak memiliki batang sejati. Batang pohonnya terbentuk dari perkembangan dan pertumbuhan pelepah pelepah yang mengelilingi poros lunak panjang. Batang pisang yang sebenarnya terdapat pada bonggol yang tersembunyi di dalam tanah.

Nama Lokal:
Banana (lnggris); Tsui, Cha (Cina); Pisyanga, Kila (lnggris); Pisang (lndonesia); Klue (Thailand); nget (Burma); Gedang (Jawa); Cau (Sunda); Biu (Bali); Puti (Lampung); Wusak lambi, lutu (Gorontalo); Kulo (Ambon); Uki (Timor).

Penyakit Yang Dapat Diobati:
Pendarahan rahim, merapatkan vagina, sariawan usus. Ambeien, cacar air, telinga dan tenggorokan bengkak, disentri. Amandel, kanker perut, sakit kuning (Lever). Pendarahan usus besar, diare.

Pemanfaatan:
1. Kanker Perut
Bahan : Tunas batang pohon pisang dan 1 potong tumbuhan benalu teh.
Cara Membuat: Anak pisang diparut. Ambil airnya sebanyak 4 gelas. Rebus bersama benalu teh sampai mendidih hingga tinggal 2 gelas.
Cara Menggunakan: Diminum 2 kali sehari 1 gelas, pagi dan sore hari. Lakukan secara teratur.
2. Sakit Kuning
Bahan: Buah pisang emas yang sudah masak.
Cara Membuat: Makan buah pisang emas yang banyak.
3. Keluarga Berencana
Bahan: Buah pisang ambon.
Cara Membuat: Direbus dengan air sampai mendidih.
Cara Menggunakan: Diminum airnya 2 kali sehari, pagi dan malam hari sebelum tidur. Lakukan selama 7 hari sesudah menstruasi atau melahirkan.
4. Pendarahan Usus Besar
Bahan: Tunas/anak pisang dan 1 potong bonggol benalu teh.
Cara Membuat: Anak pisang diparut. Peras, ambil airnya sebanyak 2 gelas. Rebus bersama bonggol benalu teh sampai mendidih hingga tersisa 1 gelas.
Cara Menggunakan: Disaring dan diminum 2 kali sehari 1 cangkir.
5. Pendarahan Rahim
Bahan: Tunas/anak pisang dan 1 potong bonggol benalu teh.
Cara Membuat: Anak pisang diparut. Ambil airnya sebanyak 2 gelas. Rebus bersama bonggol benalu teh sampai mendidih hingga tersisa 1 gelas.
Cara Menggunakan: Disaring dan diminum 1 kali sehari ½ gelas.
6. Mencegah Pendarahan Sehabis Melahirkan
Batang pohon pisang diparut untuk diambil airnya.
Cara Menggunakan: Disaring dan diminum 2 kali sehari ½ gelas.
7. Sariawan Usus
Bahan: Kulit buah pisang kluthuk yang masak dan buah pisang mentah.
Cara Membuat: Semua bahan keluar airnya. Embunkan semalaman di luar rumah.
Cara Menggunakan: Diminum setelah bangun tidur/pagi hari.
8. Merapatkan Vagina Dan Mencegah Pendarahan
Bahan: Batang pohon pisang batu yang belum berbunga.
Cara Membuat: Pohon pisang dipancung. Ambil airnya yang bersih.
Cara Menggunakan: Gunakan untuk mencuci vagina setelah bersalin.
9. Ambeien
Bahan: Buah pisang kluthuk yang masih mentah, adas pulasari secukupnya dan 1 potong gula merah.
Cara Membuat: Buah pisang kluthuk diparut. Ambil airnya. Campurkan dengan bahan lainnya. Aduk sampai merata.
Cara Menggunakan: Disaring dan diminum.
10. Cacar Air
Bahan: Bonggol batang pisang kluthuk, adas pulosari.
Cara Membuat: Bonggol pisang diparut. Ambil airnya. Campurkan dengan bahan lainnya. Aduk sampai merata.
Cara Menggunakan: Disaring dan diminum.
11. Telinga Bengkak
Kulit pisang kluthuk dipanggang. Dalam keadaan hangat, diperas. Ambil airnya. Oleskan pada bagian telinga yang bengkak.
12. Tenggorokan Bengkak
Bahan: Bonggol pisang kapok (Kepok)
Cara Membuat: Bonggol pisang diparut. Peras, diambil airnya.
Cara Menggunakan: Dipakai untuk kumur.
13. Disentri
Bahan: Bonggol pisang kluthuk.
Cara Membuat: Diparut, ambil airnya sebanyak ½ gelas.
Cara Menggunakan: Diminum 3 hari sekali.
14. Diare (Orang Dewasa)
Buah pisang kapok (kepok) mentah dibakar. Kemudian dimakan.
15. Diare (Bayi)
Bahan: Buah pisang kapok (kepok) mentah.
Cara Membuat: Diiris-iris dan digoreng tanpa minyak.
Cara Menggunakan: Dimakan oleh ibu yang sedang menyusui bayi tersebut.
16. Amandel
Bahan: Bonggol batang pisang.
Cara Membuat: Diparut dan diperas untuk diambil airnya
Cara Menggunakan: Diminum.
17. Mencegah Infeksi
Ambil getah pelepah daun pisang, oleskan pada bagian yang luka.
18. Hidung Bersarah
Bahan: Akar atau batang pisang kepok secukupnya.
Cara Membuat: Ditumbuk halus lalu diseduh dengan air panas.
Cara Menggunakan: Diminum sebanyak ½ gelas sekaligus.
19. Digigit Binatang
Bahan: Bonggol batang pisang raja.
Cara Membuat: Diparut dan diperas untuk diambil airnya.
Cara Menggunakan: Diminum 2 kali sehari ½ – 1 gelas.
20. Melancarkan Buang Air Besar
Makan buah pisang ambon lumut atau pisang emas masak yang banyak.
21. Sakit Mata
Makan pisang ambon/pisang cere yang masak 2 kali 3 buah setiap hari.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Pinang

Uraian:
Pinan umumnya ditanam di perkarangan, di taman atau dibudidayakan. Kadang tumbuh liar di tepi sungai dan tempat – tempat lain, dapat ditemukan dari 1 – 1.400 m dpl. Pohon berbatang langsing, tumbuh tegak, tinggi 10 – 30 m, diameter 15 – 20 cm, tidak bercabang dengan bekas daun yang lepas. Daun majemuk menyirip tumbuh berkumpul di ujung batang membentuk roset batang. Pelepah daun berbentuk tabung, panjang 80 cm, tangkai daun pendek. Panjang helaian daun 1 – 1,8 m, anak daun panjang 85 cm, lebar 5 cm, dengan ujung sobek dan bergigi. Tongkol bunga dengan seludang panjang yang mudah rontok, keluar dari bawah roset daun, panjang sekitar 75 cm, dengan tangkai pendek bercabang rangkap. Ada 1 bunga betina pada pangkal, di atasnya banyak bunga jantan tersusun dalam 2 baris, tertancap dalam alur. Bunga jantan panjang 4 mm, putih kuning, benang sari 6. Bunga betina panjang 1,5 cm, hijau, bakal buah beruang satu. Buahnya buah buni, bulat telur sungsang memanjang, panjang 3,5 – 7 cm, dinding buah berserabut, bila masak warnanya merah orenye. Biji satu, bentuknya
Seperti kerucut pendek dengan ujung membulat, pangkal agak datar dengan suatu lekukkan dangkal, panjang 15 – 30 mm, permukaan laut berwarna kecokelatan sampai coklat kemerahan, agak berlekuk – lekut menyerupai jala dengan warna yang lebih muda. Umbutnya dimakan sebagai lalab atau acar, sedang buahnya merupakan salah satu ramuan untuk makan sirih, dan merupakan tanaman penghasil zat samak. Pelepah daun yang bahan Sundanya disebut upih, digunakan untuk pembungkus makanan, bahan campuran untuk pembuat topi, dsb nya. Perbanyak dengan biji.

Nama Lokal:
Jambe, penang, wohan (Jawa); Pineng, pineung, pinang; Batang mayang, batang bongkah, batang pinang, pining, boni (Sumatra); Gahat, gehat, kahat, taan, pinang (Kalimanantan); Alosi, mamaan, nyangan, luhuto, luguto, poko rapo, amongon (Sulawesi); Bua, hua, soi, hualo, hual, soin, palm (Maluku).

Penyakit yang Dapat Diobati:
Cacingan, perut kembung, luka, batuk berdahak, diare, kudis, koreng, terlambat haid, keputihan, beri-beri, malaria, difteri, tidak nafsu makan, sembelit, sakit pinggang, gigi dan gusi.

Pemanfaatan:
Bagian Yang Dapat Dipakai: Biji, Daun, Sabut.
Biji (Binglang):
– Cacingan: taeniasis, fasciolopsiasis.
– Perut Kembung akibat gangguan pencernaan.
– Bengkak karena retensi cairan (edema).
– Rasa penuh di dada, luka, batuk berdahak.
– Diare, terlambat haid, keputihan, beri – beri, edema, malaria.
– Memperkecil pupil mata (miosis) pada glaucoma.

Daun:
– Tidak nafsu makan, sakit pinggang (lumbago).
Sabut:
– Gangguan pencernaan (dyspepsia), sembelit, edema dan beri – beri.

Pemakaian:
Untuk Minum: 5 – 10 Gr biji kering atau 5 – 10 gr sabut, direbus.

Pamakaian Luar:
Biji secukupnya direbus. Airnya untuk mencuci luka dan infeksi kulit lainnya.

Cara Membuat:
1. Cacingan
30 Gr serbu biji pinang direbus dengan 2 gelas air.
Didihkan selama 1 jam. Setelah dingin, saring.
Minum sekaligus sebelum makan pagi.
2. Luka
Biji ditumbuk halus, untuk dipakai pada luka.
3. Kudis
Biji pinang digiling halus. Tambahkan sedikit air kapur sirih sampai adonan seperti bubur. Dipakai untuk memoles bagian tubuh yang kudisan.
4. Koreng
Pinang, gambir, kapur sirih masing – masing sebesar telur cecar, tembakau sebesar ibu jari dan 1 lembar daun sirih segar. Bahan – bahan tersebut dicampur lalu digiling halus. Lumatkan pada koreng yang telah dibersihkan.
5. Disentri
Buah pinang yang berwarna kuning muda dicuci. Rendam dalam segelas air selama beberapa jam. Minum air rendaman pinang tersebut.
6. Membersihkan Dan Memperkuat Gigi Dan Gusi
Biji pinang diiris tipis – tipis. Kunyah setiap hari selaam beberapa menit (ampasnya dibuang).
7. Sakit Pinggang
Daun pinang secukupnya dicuci bersih, lalu digiling halus. Tambahkan minyak kelapa secukupnya. Panaskan sebentar di atas api. Hangat – hangat dipakai untuk mengompres bagian pinggang yang sakit.
8. Difteri
1 butir biji pinang kering digiling halus. Seduh dengan ¾ cangkir air panas dan 1 sendok makan madu. Setelah dingin gunakan untuk berkumur di tenggorokan selama 3 menit, lalu dibuang. Lakukan 3 kali sehari.

Efek Samping:
Senyawa alkaloid yang di kandung pada buah cukup berbahaya untuk sistem syaraf. Yang umum terjadi adalah mual dan muntah (20 – 30%), sakit perut, pening dan nervous. Untuk mengurangi kejadian muntah, minumlah rebusan obat yang sudah di dinginkan. Efek samping yang jarang terjadi adalah luka pada lambung yang disertai muntah darah.

Tanda – tanda Kelebihan Dosis:
Banyak keluar air liur (qalivation), muntah, mengantuk dan seizure.

Pengobatan:
Cuci lambung dengan larutan potassium permanganate dan injeksi atropine. Untuk mengurangi efek racunnya, gunakan biji pinang yang telah dikeringkan. Atau lebih baik lagi bila pinang kering direbus dahulu sebelum diminum. Kebiasaan mengunyah biji pinang, dapat meningkatkan kejadiaan kankermukosa pipi (Buccal Cancer).

Komposisi:
Sifat kimiawi Dan Efek Farmakologis:
Biji:
Pahit, pedas, hangat. Obat cacing (anthelminting), peluruh kentut (antiflatulent), peluruh haid, peluruh kencing (diuretik), peluruh dahak, memperbaiki pencernaan, pengelat (astringen), pencahar (laksan).
Daun:
Penambah nafsu makan. Sabut: hangat, pahit. Melancarkan sirkulasi tenaga, peluruh kencing, pencahar.

Kandungan kimia:
Biji mengandung 0,3 – 0,6% alkaloid, seperti Arekolin (C8 H13 NO2), arekolidine, arekain, guvasine dan isoguvasine. Selain itu juga mengandung red tanin 15%, lemak 14% (palmitic, oleic, stearic, caproic, caprylic, lauric, myristic acid), kanji dan resin. Biji segar mengandung kira – kira 50% lebih banyak alkaloid, dibandingkan biji yang telah diproses. Arekolin: obat cacing dan berkhasiat sebagai penenang.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized